Gemi dan Kaleina berjalan beriringan keluar dari gerbang sekolah, bersamaan dengan beberapa remaja berseragam serupa yang juga berjalan arah pulang usai menyelesaikan tugas mereka sebagai seorang siswa.
“Kamu jadi pesen ojek online nggak, Gem?” Tanya Kaleina.
Gemi mengangguk. “Aku pesen sekarang aja kali ya,” gumam gadis itu seraya mengangkat telepon genggam miliknya.
“Nanti aja pesennya!” Cegah Kaleina. “Kalau pesen di sini nanti dicegat sama mamang ojek pangkalan, mending pas udah di perempatan aja deh biar nggak bikin masalah,” lanjut gadis itu yang dibalas anggukan oleh Gemi.
Gemi terkejut hingga melompat ke pembatas jalan kala suara bising dari segerombolan motor secara tiba-tiba menyapa indra pendengarannya, berbeda dengan Kaleina yang terlihat santai dan biasa saja.
“Naon sih eta?!” Ucap Gemi kesal.
Kaleina menarik tangan Gemi untuk minggir ke arah gerobak batagor di sisi jalan, membuat gadis itu mau tak mau menurut.
“Gerombolan barudak bangor etamah neng,” Ucap mamang batagor.
Gemi mengerutkan kening kebingungan. “Itu mau tawuran ya, mang?” Tanya gadis itu.
“Henteu, liwat doang etamah. Cuma emang lamun liwat knalpot na di gerung-gerungkeun, biar rame we mereun.”
“Ck! Ribet banget tuh yang kaya gitu. Bikin resah masyarakat, dasar jamet!” Ucap Gemi menyumpah serapahi segerombol geng motor tadi.
Setelah dirasa sepi, Gemi melanjutkan perjalanannya menuju perempatan dengan Kaleina yang masih setia menemani hingga suara klakson mobil terdengar yang sontak membuat dua gadis itu menoleh kaget.
Gemi sudah siap memarahi si pengemudi sebelum akhirnya tersadar siapa yang ada di dalam mobil sedan berwarna putih itu.
“Ih aku udah dijemput. Aku duluan nggak papa, Gem?” Tanya Kaleina dengan nada tak enak.
“Iya duluan aja Le, aku bisa sendiri kok.”
“Apa mau bareng aja nggak? Sekalian dianter papah aku?”
“Nggak usah ah, aku mau ke sekolahnya Gempi dulu disuruh jemput sama Ibu soalnya. Kamu duluan aja sok,” tolak Gemi.
“Yaudah atuh, kamu kalau ada apa-apa kabarin aku ya, Gem.” Ucap Kaleina yang dijawab anggukan oleh Gemi.
Akhirnya Gemi berjalan sendirian menuju perempatan. Sambil sesekali melompat atau berhenti untuk menyapa kucing jalanan. Beberapa kali juga melambaikan tangan ke arah murid-murid yang menyapa nya, sampai akhirnya Gemi sampai di perempatan.